Konsep Power dan Hegemoni
Hegemoni pertama kali dicetuskan oleh Antonio
Gramsci dalam bukunya Notes on the Southern Question. Sehingga, Antonio Gramsci
ini terkenal dengan teorinya yaitu Cultural Hegemony atau Hegemoni
Kultural. Dalam teori ini, Gramsci menyatakan mengenai sebuah kekuatan suatu
kelas masyarakat yang mendominasi di masyarakat. Hegemoni menurut Gramsci lebih
difokuskan kepada hal-hal yang bersifat ideologi nilai dan norma yang akan
tertanam di masyarakat. Hegemoni adalah suatu kemenangan yang terus menerus
oleh suatu kelompok atau kaum dengan melalui kesepakatan, ketimbang penindasan.
Hegemoni Gramsci berbeda dengan Hegemoni menurut
Marxis. Dalam fokus milik Marxis, Hegemoni yang dimaksud lebih menitikberatkan
kepada kekerasan dan pemaksaan yang terjadi di masyarakat antara kaum borjuis
dan kaum proletariat, dimana lebih mendominasi kaum borjuis disini. Kaum
proletariat dituntut dan dipaksa untuk mengikuti dan mematuhi kaum borjuis.
Namun pada Hegemoni milik Gramsci ini menjelaskan kepada dominasi dalam
kesepakatan adanya pemikiran, ide-ide, nilai-nilai, dan norma yang suatu kaum
ingin sebar-luaskan kepada kaum lainnya. Hegemoni milik Gramsci lebih bersifat
persuasi dan kesepakatan terhadap adanya suatu nilai-nilai dan norma-norma
dalam masyarakat. Suatu kaum yang ingin mendominasi atau kelompok pengatur ini
membuat seakan-akan bahwa nilai-nilai dan norma-norma yang mereka bawa adalah
norma yang sah dan benar adanya.
Hegemoni yang dicetuskan oleh Gramsci menekankan
pada sebuah perjuangan. Sebuah nalar atau pemikiran yang biasa dalam masyarakat
bersifat fleksibel dan dapat berubah-ubah. Namun, dalam masyarakat kaum bawah
ini nilai-nilai hegemoni juga dapat ditolak dan tidak dipertimbangkan karena
adanya faktor ekonomi. Dimana banyak dari kaum bawah lebih takut akan adanya
paksaan, penindasan yang menyulitkan mereka untuk mendapatkan nafkah untuk
keluarga mereka. Namun juga ada beberapa kelompok lainnya yang dapat menerima karena
mereka tidak dapat mengubahnya.
Salah satu contoh Hegemoni dalam Amerika yang
terjadi di industri musik. Dalam pada saat itu, industri musik Amerika dikuasai
oleh sebuah perusahaan musik. Perusahaan musik ini memegang kendali mengenai
produksi dan distribusi musik pada saat itu. Sehingga ini memperkenalkan dan
mempromosikan para artis dan band yang dianggap menguntungkan perusahaan, dan
tidak menganggap para artis atau band yang dianggap merugikan mereka.
Perusahaan ini menggunakan kekuatan hegemoninya terhadap pendengar pada saat
itu. Perusahaan ini mengambil keuntungan dengan hanya mempromosikan artis
penyanyi atau band dengan kulit putih. Musisi kulit putih seperti Buddy Holly,
Bob Dylan, the Beatles, dan the Rolling Stones ini sangat terkenal. Ini sangat
berbeda dengan musisi kulit hitam, seperti Funkadelic yang tidak dianggap dan
dilarang berkarya dalam industri musik.
Kemudian salah satu Hegemoni di Indonesia adalah
yang terjadi pada para pedagang dan pemerintah saat revitalisasi pasar.
Pemerintah sebagai kaum yang mendominasi mempersuasi dan membuat kesepakatan
dengan para pedagang untuk melakukan revitalisasi pasar. Namun pada kenyataanya
dalam pelaksanaan pembangunan terdapat beberapa bangunan yang tidak sesuai
dengan kesepakatan, adanya ketidakadilan dalam pembagian kios, atau mungkin
kenaikan pembelian atau penyewaan kios, ini memunculkan adanya hegemoni disini.
Disini pemerintah mengambil keuntungan dan memanfaatkannya dari para pedagang,
namun para pedagang sebagai yang pihak diatur juga tidak dapat melakukan
negosiasi di kemudian hari. Para pedagang terpaksa mematuhi dan menyetujui
seluruh kesepakatan sesuai dengan pemerintah. Sehingga pada akhirnya, dalam
bentuk hegemoni ini, pemerintah sebagai kaum atau kelompok yang mendominasi
kembali meraih kemenangan.


Comments
Post a Comment