Tugas Artikel : Membanding-bandingkan Anak Tak Selalu Memotivasi


Pada tanggal 20 Juni 2021 lalu merupakan hari Ayah Sedunia. Ini mengingatkan pada salah satu cuitan di salah satu media sosial mengenai obrolan seorang anak laki-laki berusia 26 tahun dengan ayahnya sendiri. Sang ayah berkata, “liat tuh anak nya pak X, tetangga sebelah, seumuran sama kamu sudah punya rumah sendiri, mobil sendiri, sudah nikah, kamu kok masih di sini aja.” Lalu sang anak yang memang humoris menjawab dengan penuh canda juga sindiran balas dendam, “coba deh bapak lihat pak jokowi, seumuran bapak sudah jadi presiden.”

Cerita ini hanyalah salah satu contoh gurauan anak yang berani menyatakan pendapat dan perasaannya dalam bentuk sarkas saat dibandingkan dengan anak lain. Namun perlu diingat, bahwa tidak semua anak berani menyatakan pendapatnya. Beberapa hanya diam dan menyesali serta merendahkan dirinya sendiri. Beberapa orang tua merasa bahwa dengan membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak yang lain akan membuat sang anak merasa lebih termotivasi. Namun, pada kenyataannya tidak semua anak bisa termotivasi melalui perbandingan ini.

Beberapa orang tua juga tidak segan membandingkan anak mereka sendiri terhadap saudara kandungnya sendiri. Seperti contoh ketika anak pertama perempuan yang dibandingkan dengan anak perempuan kedua mereka sendiri yang mungkin memiliki selisih umur yang berdekatan. Baik anak pertama yang akhirnya merasa gagal menjadi kakak ataupun anak kedua yang merasa tidak bisa mengejar kakaknya. Pada akhirnya hubungan yang terjadi akan menyebabkan adanya kerenggangan, dan adanya ketidakharmonisan antara kakak beradik ini. Bahkan bisa lebih parah lagi adalah sikap ini dapat menimbulkan rasa kompetitif di kedua belah pihak saudara. Sehingga ini tidak baik bagi persaudaraan mereka, karena adanya rasa iri, dengki, bahkan benci jika salah satu diantaranya mereka ada yang lebih unggul.

Ironinya, bagi masyarakat Indonesia sendiri, membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak tetangga atau bahkan saudara kandung mereka sendiri adalah tindakan yang dianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Kembali lagi karena bagi sebagian besar masyarakat, tindakan ini ditujukan untuk memotivasi seorang anak agar menjadi lebih baik lagi.

Sudut Pandang dari Si Anak

Jika kita menilik dari pandangan si anak, setelah dibanding-bandingkan si anak akan memiliki perasaan rendah diri. Dimana dia akan memiliki pemikiran bahwa dia ahanyalah seorang anak dengan segala kekurangannya. Padahal setiap manusia sesungguhnya memiliki kekurangan dan kelebihan nya masing masing. Ada anak yang memang kemampuannya di bidang matematika, ada anak yang kemampuannya di bidang bahasa, ada yang bidang olahraga, dan lain-lain.. Terlebih setiap manusia di dunia ini memiliki garis waktunya masing-masing. Beberapa manusia pada umur 23, ada yang masih kuliah, ada yang baru lulus kuliah, ada yang masih mencari pekerjaan, ada yang sudah menikah, ada yang punya anak, atau bahkan sudah kembali ke Rahmatullah. 

Kemudian, si anak akan merasakan bahwa apa apa saja yang sudah diusahakan oleh anak tidak dianggap oleh orang tuanya. Kemudian saat hal tersebut terjadi akan muncul perasaan jengkel yang tumbuh pada diri si anak terhadap orang tuanya. Pada saat ini juga bisa menyebabkan si anak kurang memiliki rasa hormat pada orang tuanya. Yang bilamana ini terjadi terus-menerus dan sudah terjadi sejak kecil maka ini akan dapat memunculkan sifat durhaka pada orang tuanya. 

Hal yang Dapat Dilakukan Sebagai Orang Tua

Sebagai orang tua hendaknya kita memahami bahwa rezeki tiap-tiap insan manusia, bahkan hewan sudah diatur, dan sudah memiliki jalannya masing-masing. Yang terpenting sebagai manusia dan juga orang tua hendaknya mengetahui dan memotivasi anak dengan kata-kata yang baik, lihatlah sejenak apa-apa saja yang sudah diupayakan oleh si anak. Ada pilihan lain seperti menanyakan bagaimana kehidupan pendidikannya, karirnya, usahanya yang dimana ini lebih baik ketimbang hanya membanding-bandingkan. Selama si anak masih tetap mau beribadah dan bekerja dengan jalan yang baik dan halal, tentu bukan menjadi masalah. Seperti yang telah tertulis dalam firman Allah di Al-Quran surat Hud ayat 6:

Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di muka bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediaman dan tempat penyimpanannya. Semua itu (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). – (Q.S Hud: 6)

Hal yang Dapat Dilakukan Seorang Anak

Kemudian sebagai seorang anak, apabila kita mendapati orang tua kita yang membanding-bandingkan seperti contoh di atas, ada kalanya kita tidak perlu langsung marah, jengkel, ada sisi yang perlu dilihat lebih jelas jika sebenarnya mereka ingin memotivasi kalian dan ingin kalian menjadi lebih baik, namun hanya saja cara mereka kurang tepat. Saat seorang anak merasa dibandingkan oleh orang tuanya sendiri, mencoba mengajak berbicara dengan bahasa yang halus, sopan, dan sabar bisa menjadi solusi daripada terus-menerus menggerutu karena orang tua tidak memahami kalian, dan justru malah seolah-olah merendahkan.

Ajak orang tua bicara, beri pengertian bahwa cara membanding-bandingkan bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi anaknya, justru malah semakin membuat si anak semakin rendah diri dan merasa penuh kekurangan. Setiap orang sudah memiliki jalannya dan waktunya masing-masing. Jika bahasa yang digunakan benar-benar sopan, halus serta tidak dipenuhi kejengkelan, dapat dipastikan bahwa orang tua akan luluh dan benar-benar akan mengerti keadaan sang anak.

Tidak ada orang tua di dunia ini yang ingin anaknya menderita, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Terlebih sebagai seorang anak sudah diajarkan dalam agama bahwa wajib hukumnya bagi seorang anak untuk mencintai, menghormati, dan berbicara halus kepada orang tua. Seperti yang tertuang dalam firman Allah dalam Al-Quran surah Al-Isra ayat 23 yang artinya

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (QS. Al Isra: 23)

Comments